Pernahkah anda merasa ada orang lain yang mulai mengganggu hidup anda dengan memberikan ancaman melalui surat atau email dan juga berbagai macam gangguan lain seperti telepon tanpa suara atau terdengar suara mengancam, mulai dari yang bersifat hanya sebatas ucapan sampai kepada tindakan nyata. Atau anda sering mendapatkan perhatian dari orang yang belum anda kenal sebelumnya berupa hadiah, kiriman bunga, surat cinta. dimana anda merasa bahwa mereka selalu saja menemukan diri anda dimanapun, bahkan anda tidak bisa bersembunyi sama sekali, mereka ada dan nyata, mengikuti dan membuntuti anda. Anda sadar kalau semua ini bukanlah sebuah bentuk paranoid belaka, melainkan memang benar adanya, dan menghantui hidup anda. Mereka memaksa anda untuk merasa terancam, tidak tenang dan berada dibawah tekanan. Jika anda pernah mengalami gangguan demikian kemungkinan besar yang terjadi pada diri anda adalah, anda telah menjadi korban dari perilaku stalking, Yaitu suatu bentuk kelainan yang dimiliki seseorang yang terobsesi dengan diri anda. Mereka merasa diri anda memang pantas diperlakukan demikian dengan dasar keyakinan waham yang mereka yakini didalam kepala mereka yang selalu berisikan pemujaan terhadap diri anda dan juga ide-ide “kegilaan” yang berkenaan pada diri anda.
Pengertian Stalking
Stalking adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana stalking didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnyaStalking digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh para orang terkenal, seperti selebritis, dari seseorang yang tidak ia kenal dimana orang tersebut yang mana para pelakunya telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.
Dalam bidang psikologi dan psikiatri sendiri stalking diartikan oleh Meloy (1998) dan juga Stieger, Burger dan Schild (2008), yang mana oleh mereka suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai stalking jika korban melaporkan sekurang-kurangnya 2 bentuk perilaku yang bersifat mengganggu dimana waktu kejadiannya terjadi kurang dari 2 minggu dan selalu memberikan rasa takut kepada korbannya.
Ranah Perilaku
Stalking telah diterapkan kedalam banyak bentuk dari perilaku, yang juga didasari oleh berbagai macam motif. Obsesi adalah dasar dari perilaku stalking, dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga melakukan kontak dengan korbannya semua ini bertujuan untuk memenuhi keinginannya untuk memiliki kedekatan dengan korban. Tidak jarang juga bahwa para stalker mengikuti korban sampai ketempat mereka beraktifitas dan sampai ketempat mereka tinggal, juga mereka tertarik terhadap informasi-informasi yang bersifat personal dari korbannya seperti nomor telepon, alamat email, ukuran pakaian, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi. dimana mereka juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai macam hal seperti internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi tentang diri korban, bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat dari korban untuk memperoleh hal tersebut yang jelas dilakukan tanpa ijin.
Karakteristik diri seorang stalker cenderung memiliki kepercayaan yang salah didalam dirinya, terkadang kepercayaan salah itu berbentuk bahwa orang yang menjadi targetnya memiliki rasa cinta kepada sang stalker. Dasar ini muncul dari kecenderungan Erotomania (suatu bentuk gangguan kepribadian dimana penderitanya yakin bahwa seseorang yang lebih tinggi status sosialnya mencintai dirinya, dan hal ini biasa ditemukan pada pria) yang dimiliki pada seorang stalker. Selain itu perilakunya juga didasari oleh keinginan sang stalker untuk menolong korbannya dari sesuatu, padahal jelas bahwa orang tersebut tidaklah memerlukan pertolongan. Sehingga stalking juga dapat dikemas dalam suatu tindakan yang bersifat legal seperti menelepon, mengirimkan hadiah atau mengirimkan surat dan email. Namun semua itu datang dari orang yang tidak diharapkan dan malahan menimbulkan gangguan dan ketidak-nyamanan, karena sang korban tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari para stalker yang berperilaku berlebihan itu.
Perilaku merugikan sang korban seperti fitnah dan mencemarkan nama baik korban seringkali ditemui dalam suatu kasus, hal ini merupakan suatu cara bagi stalker untuk dapat berperilaku kejam yang merupakan hasrat mereka kepada para korbannya, dilakukan tanpa empati, seperti merasakan apa kira-kira yang dirasakan orang lain dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya, tidak ada rasa empati pada diri seorang stalker,mereka cacat dalam hal tersebut, membuat mereka menjadi lebih sadis, seperti dikatakan oleh Dr. Meloy (1998), bahwa setiap stalker adalah psikopat, yaitu pribadi yang tidak memiliki hati nurani dan memiliki tingkat narsisis yang terlampau tinggi. Selain itu perilaku sadis yang mereka tunjukkan mendapat dorongan dari dalam pikiran mereka yang telah mengalami berbagai macam waham, dan biasanya daripadanya mereka mendapat kesimpulan bahwa diri korban memang pantas diperlakukan dengan cara yang demikian.
Stalker memandang para korbannya buruk dan lemah sehingga dari kepercayaan sesat itu mereka merasa pantas untuk memperlakukan para korbannya dengan buruk atau bahkan berperilaku seperti ingin menolong mereka. Hal ini semakin mendorong waham didalam pikiran mereka untuk dapat memperlakukan sang korban dengan layaknya apa yang mereka delusikan seperti untuk disakiti atau untuk ditolong. Jika mereka menebar fitnah dan juga menyebarkan kejelekan karakter dari sang korban, hal tersebut akan dapat mengisolasi kehidupan sang korban yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan akan kekuasaan bagi stalker dan kendali lebih atas diri korban. Adapun kiranya para stalker melakukan diagnosa terhadap sang korban terhadap dengan kesimpulan bahwa sang korban memiliki suatu gangguan mental tertentu yang menyebabkan dirinya perlu ditolong atau mungkin perlu disakiti, kepercayaan ini sangat absolut didalam diri stalkeryang mengakibatkan korban merasa sangat tertekan.
Perilaku manipulatif adalah senjata bagi stalker, tindakan yang bersifat legal namun penuh dengan gangguan adalah salah satu cara dari sikap manipulatif yang mereka miliki. Akan lebih berbahaya jika korban sampai termakan oleh perilaku manipulatif mereka karena seorang stalker menginginkan suatu hal yang cenderung tidak rasional bagi korbannya. Bahkan demi mendapat perhatian dari korbannya tidak jarang ada bentuk perilaku stalker yang sampai mengancam akan melakukan bunuh diri jika tuntutannya tidak dipenuhi. Semua ditujukan agar sang korban mau membuka hubungan dengan dirinya. Bentuk-bentuk ancaman dan kekerasan seperti perusakan barang-barang korban sering kali ditemui dalam kasus-kasus perilaku stalking. setelah menakut-nakuti korban, bentuk kejahatan biasanya berlanjut kepada perilaku kekerasan seksual dan juga penyerangan secara fisik yang dari keduanya dapat menimbulkan bekas yang serius pada jiwa dan raga korban.
Studi Gender Yang Berhubungan Dengan Stalking
Dilaporakan bahwa matoritas pelaku stalking adalah kaum pria, dan sedikit ditemukan pada kaum wanita. Berdasarkan hasil catatan dan juga diagnosa psikiatris dari pria dan wanita yang melakukan stalking tidaklah jauh berbeda, namun pada kaum pria telah tercatat sebelumnya memiliki sejarah terlibat kasus kejahatan yang telah menjurus pada kriminalitas. Selain itu kecenderungan durasi waktu yang dihabiskan untuk menguntit pada korbannya juga tidak jauh berbeda antara yang pria dan yang wanita.
Pada stalker wanita biasanya mereka mencari korban dari orang yang telah mereka kenal sebelumnya, seperti yang memiliki hubungan profesional, dan mereka jarang mencari target korban dari orang asing. Kecenderungan pada wanita juga ditemui bahwa mereka dapat men-stalk wanita lainnya, berbeda dengan stalker pria yang secara umum hanya mencari korban dari lawan jenisnya saja. Di dalam “study of women who stalk” Purcell, Pathe dan Mullen, menyimpulkan terdapat 2 variabel psikiatris utama yang membedakan perilaku ini pada pria dan wanita, yaitu dalam motif yang mendasari dan dalam hal pemilihan korban. Pada wanita motif yang didapati adalah untuk mendapatkan keintiman dengan para korbannya, yang biasanya adalah orang yang telah ia kenal sebelumnya, korban biasanya adalah yang bekerja pada bidang pelayanan sosial seperti dokter, perawat, terapis, dan konselor, namun tetap tidak menutup kemungkinan pada pria didalam bidang yang lain. selain itu pada wanita jarang ditemukan bentuk-bentuk ancaman dan juga kekerasan yang dilakukan terhadap korbannya, berbeda pada pria yang dalam aksinya seringkali ditemukan tindakan mengancam dan juga kekerasan terhadap korbannya.
Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Stalking
http://www.trutv.com/library/crime/criminal_mind/psychology/stalkers/5.html
Kamis, 23 Februari 2012
Stalking : Bentuk Perhatian Dari Seseorang Yang Tidak Pernah Diharapkan
Rabu, 11 Januari 2012
PENGARUH GAME ONLINE TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA
PENGARUH GAME ONLINE TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA
Maraknya perkembangan dunia internet, membawa banyak pengaruh bagi siswa. Salah satunya dengan kehadiran game online
Candu Game Online
Permainan ini dapat mengganggu prestasi belajar. Hal ini karena permainan game online memiliki sifat adiktif atau membawa candu. Akibatnya anak yang sudah mengenal game online akan cenderung terpengaruh, baik secara langsung maupun tidak.
Anak sekolah merupakan salah satu kelompok yang mudah terpengaruh oleh dampak game online. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat atau bermain, namun anak cenderung memanfaatkannya untuk duduk di depan komputer dan asik dalam permainan game online tersebut.
Meskipun kelihatanya sekedar duduk dampak jangka panjang dari permainan games yang menghabiskan waktu luang lebih dari 30 jam per minggu, serta permainan game dapat menguras energi serta membutuhkan konsentrasi dan anak diransang penasaran untuk mengejar nilai tinggi bahkan anak lupa waktu untuk berhenti sejenak.
“Ketergantungan semacam itu dapat memicu perilaku negatif seperti mencuri uang untuk membeli game baru, bolos sekolah, malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR), atau rasa tak tenang saat tidak dapat bermain games.
Bila anak bermain game dengan tingkat ketergantungan yang tinggi dan posisi duduk yang salah saat bermain games dikawatirkan anak akan mengidap Repetitive Strain Injury (RSI) atau nyeri sendi di kalangan anak-anak.
Mencegah Dampak Game Online
Untuk mencegah seorang anak bermain game online tentu bukan pekerjaan mudah. Fasilitas internet yang banyak tersedia di mana-mana, salah satunya warung internet, menjadikan anak bisa mengakses internet dari mana saja.
Tidak selalu harus bermain di rumah, anak bisa mencuri waktu sepulang sekolah dengan mengunjungi arena game online atau warung internet yang ada di sekitar sekolah mereka.
Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua. Di antaranya :
1. Bekerjasama dengan guru di sekolah untuk turut memantau perkembangan belajar siswa.
2. Menjalin komunikasi informal agar seorang anak bisa terbuka pada orang tua, sehingga orang tua bisa memberikan pendidikan pada seorang anak tanpa sang anak merasa dihakimi.
3. Belajarlah tentang game online. Sehingga Anda bisa berdiskusi dengan anak Anda tentang permainan tersebut. Jika ini bisa terjadi, anak tidak akan perlu mencari pelarian dengan kawan-kawannya untuk sekedar berdiskusi tentang permainan game online. Sehingga anak bisa lebih betah di rumah karena bisa mendapatkan kawan mengobrol yang memahami dunia mereka.
4. Berikan waktu khusus bermain game online, dan tegasi anak Anda untuk tidak bermain di luar waktu yang sudah disepakati. Ini menunjukkan bahwa Anda tidak sekedar melarang, namun memberikan kelonggaran. Di sisi lain Anda mengajarkan anak Anda untuk bertanggung jawab pada waktu yang dimilikinya
Dampak Kenakalan Remaja. Saat ini, hampir tidak terhitung berapa jumlah remaja yang melakukan hal-hal negatif. Bahkan, Dampak kenakalan remaja tersebut, banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Remaja adalah seorang anak yang bisa dibilang berada pada usia tanggung, mereka bukanlah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi juga bukan orang dewasa yang bisa dengan mudah akan membedakan hal mana yang baik dan mana yang berakibat buruk.
Sebelum mengetahui apa saja dampak kenakalan remaja, kita perlu tahu tentang kenakalan apa saja yang mungkin dilakukan oleh remaja. Sebuah kenakalan tentu tidak bisa didata satu persatu, namun bisa dirangkum seperti penjelasan di bawah ini.
Dampak kenakalan remaja:
- Kenakalan dalam keluarga: Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga.
- Kenakalan dalam pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas.Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.
- Kenakalan dalam pendidikan: Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.
Dampak Kenakalan Remaja
- Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
- Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.
- Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
- Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
- Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
- Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.
Itulah beberapa dampak kenakalan remaja yang sudah semestinya harus dihindari. Peran orang tua atau keluarga, guru di sekolah, dan juga teman-teman, adalah orang-orang yang sangat berperan penting dalam kehidupan remaja. Keikutsertaan mereka dalam mengontrol seorang remaja, bisa berdampak cukup besar demi mencapai masa depan yang lebih cerah.
Artikel dari anneahira
Read more: http://belajarpsikologi.com/akibat-kenakalan-remaja/#ixzz1j9IrBXD5
Pengaruh Game Online Bagi Kalangan Remaja (Survey)
Pengaruh Game Online – Permainan game online bagi kalangan remaja, pelajar tingkat pertama hingga menengah bahkan anak-anak TK bukanlah hal yang asing lagi di zaman sekarang ini. Banyak fakta yang kita jumpai, dengan survey ke warnet-warnet maka tidak jarang kalangan remaja bahkan anak-anak yang sedang maen game online. Bisnis warnet yang berada di belakang berkembangannya permainan game online ini menjamur di kota-kota besar di Indonesia bahkan sampai ke pedesaan. Perkembangan warnet di Indonesia semenjak beberapa tahun terakhir terlihat sangat pesat. Dari hasil survey yang dilakukan oleh beberapa rekan kita (dudhy, risdo, susilo, dan vanessa) di beberapa warnet umumnya terlihat dipenuhi oleh kalangan pelajar yang tak kelak selalu datang untuk menghabiskan waktunya bermain game online dan terkadang mereka rela untuk tidak masuk sekolah (bolos ) hanya demi bermain game online.
Apa yang dilakukan pelajar tersebut terkadang tanpa diketahui oleh orang tua mereka, ada saja alasan mereka untuk meyakinkan orang tua nya, entah itu belajar di rumah teman, atau ada acara sekolah. Dalam hal ini seharusnya para orang tua harus lebih memperhatikan lagi anak – anak mereka, paling tidak mengetahui kemana mereka setelah pulang sekolah.
Untuk mengetahui lebih dalam fenomena ini, beberapa rekan kita yang disebut diatas, mencoba melakukan survey langsung dan sekaligus wawancara kepada beberapa pengguna fasilitas warnet (game online) di salah satu warnet di daerah Pondok Gede, Bekasi. Di tempat ini bisa dibilang selalu ramai/diminati oleh para pelajar yang ingin bermain game online.
Pesan Sponsor
Sebelum melakukan wawancara terhadap beberapa pelajar, mereka menyempatkan diri untuk terlebih dahulu bertanya–tanya dengan salah satu Operator di warnet tersebut, sebut saja namanya “Mas Galuh” yang baru sekitar 4 bulan bekerja sebagai Operator di tempat tersebut. Lalu kami melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya, diantaranya adalah :
“Siapa saja sih yang sering datang ke tempat game online ini?”,
Jawabnya :
“biasanya yang datang kemari rata – rata anak SD,SMP dan SMA dan kebanyakan dari mereka mengambil paket 5 jam dari pukul 7-12 siang”. Dari sini kita lihat bahwa paket tersebut merupakan waktu yang seharusnya sekolah, sehingga bisa kita ambil kesimpulan bahwa mereka membolos pada jam tersebut dan memilih bermain game online di warnet tersebut.
“Apa sih yang biasa dimainkan oleh para pelajar dan menurut mas sendiri bagus gak permainan game online bagi para pelajar pada umumnya ?”,
Jawabnya :
“rata – rata para pelajar tersebut bermain game online seperti Ayodance, RF, DotA, Point Blank, dan tak ayal mereka juga juga membuka jejaringan sosial seperti Facebook untuk sekedar mengupdate status. Kemudian ketika ditanyakan bagus tidak nya bermain game online bagi pelajar, menurut nya tergantung dari pribadi para pelajar itu sendiri bagaimana mereka dapat mengatur waktunya dimana saat waktu untuk sekolah dan bermain lalu dari game online ini mungkin ada nilai baik dan buruknya, untuk buruknya pasti lebih banyak mereka bisa lupa akan kewajibannya untuk belajar, lupa waktu hingga tidak sekolah dan baiknya mungkin mereka bisa mendapatkan banyak teman baik nyata maupun di dunia maya”.
Selepas kami bertanya – tanya dengan Operator ditempat tersebut, kami melanjutkan dengan mewawancarai beberapa pelajar yang sedang bermain disana. Diawali dengan wawancara kami dengan salah satu siswa tingkat 5 SD sebut saja namanya Danu, dia sering sekali bermain game online ini selepas pulang sekolah, ketika ditanya apakan orang tuanya mengetahui, ujarnya orang tuanya pun mengetahui kebiasaanya bermain ditempat ini dan hanya berpesan kepadanya agar tahu waktu bermain. Kami pun bertanya juga kepadanya :
” Apa enaknya sih bermain game online ini ,biasanya suka maen apa disini ?”,
Jawabnya :
” ya, emm…enak aja seru, biasanya maen Ayodance, leaf 4 dead sama buka facebook”. Bisa dibayangkan bahwa siswa sekolah dasar saja sudah tak awam tentang warnet, khusus nya agame onile tersebut, malah ia terlihat mahir sekali dengan menggunakan komputer apa lagi sudah paham betul menggunakan situs jejaringan sosial terkenal seperti Facebook yang umunya digunakan oleh para remaja atau orang dewasa. Memang benar saja, perkembangan zaman saat ini sudah sangat pesat sekali anak – anak pun dapat menggunakan komputer dengan baik walaupun hanya bermain game online.
Dalam wawancara selanjutnya kami menyempatkan diri mewawancarai seorang siswi dari salah satu SMP Negeri sebut saja namanya adalah Grace dan Tika keduanya merupakan teman sekelas dan memang paling suka bermain game online terutama Ayodance mereka juga memanfaatkan game ini untuk bisa menambah teman apalagi mendapatkan kenalan seorang laki-laki. Mereka disini tidak merasa minder ataupun malu bermain disini yang meskipun mayoritas yang bermain disini adalah para laki – laki.
Kemudian dalam wawancara yang terakhir kami mewawancarai salah seorang pria yang di keluarkan oleh sekolahnya karena selalu sering tidak masuk sekolah karena lebih mementingkan game onlinenya. Dia bernama Ferdy yang semestinya saat ini masih duduk di bangku 2 SMA. Dia bermain game online ini sejak 1 SMP. Kami pun bertanya kepadanya :
” Kenapa sih lw dikeluarin dari sekolah, terus game online apa yang lw maenin sekarang?”,
Jawabnya :
” Gw memang dikeluarin dari sekolah karena emank gw nya juga gak suka sama sekolahnya makanya gw lampiasin dengan bermain game online, kalo game online yang gw tekunin sekarang RF”. Hal seperti inilah yang jarang orang tua mengerti terhadap anaknya.
Ternyata dari game online ini permainan RF yang ia tekuni ini menghasilkan uang yang lumayan cukup untuk mengisi dompetnya dengan menjual ID RFnya yang telah jadi (hebat) seharga Rp 500.000,- tandasnya, yabngb secara logika itu sama saja dengan billing yang dibayarkannya selama bermain game tersebut.
Dari beberapa wawancara tersebut, kami bisa menarik beberapa kesimpulan :
Pegaruh atau Dampak Negatif Game Online :
• pelajar yang bermain game online hanya menghambur – hamburkan waktu dan uang secara sia – sia .
• bermain game online membuat mereka menjadi ketagihan .
• terkadang lebih merelakan sekolahnya untuk bermain game online (bolos sekolah).
• dengan bermain game online tersebut juga bisa membuat mereka lupa waktu, untuk makan, beribadah, waktu untuk pulang ,dll.
• dengan terlalu sering berhadapan dengan monitor secara mata telanjang dapat membuat mata nya menjadi minus , nyatanya umur mereka masih muda – muda.
• anak tersebut jadi sering berbohong kepada orang tuanya karena ia awalnya pamit untuk berangkat sekolah ternyata ia bolos sekolah untuk bermain game online.
Pengaruh atau Dampak Positif Game Online:
• pelajar tersebut dapat menguasai komputer lebih lanjut .
• dengan bermain game online secara langsung ia dapat mengerti bahasa Inggris yang dipergunakan pada gamenya tak jarang mereka juga mesti mengartikan sendiri kata – kata yang mereka tidak ketahui.
• dari game online ini dapat menambah teman mereka walaupun hanya didunia nyata maupun maya .
• bagi yang telah mempunyai ID dari salah satu game onlinenya yang telah jadi (GG) mereka dapat menjualnya dengan orang lain dan akhirnya mendapatkan uang dari hasil tersebut.
Saran dari rekan kita yang telah mensurvey tentang pengaruh game online bagi kalangan remaja adalah “untuk pembaca (terutama yang masih kebablasan dalam bermain internet (game online) adalah jangan menjadikan kegiatan bermain game online menjadi suatu keharusan yang menyebabkan terbengkalai nya hal-hal lain yang lebih utama, jadikan game online sebagai hiburan saja yang sesekali menenangkan dikala suntuk, jangan lupa ibadahnya ketika bermain (pol-polan)”.
Sumber : Zetaforce (Original Artikel)
Rabu, 09 November 2011
PSYCOPHAT
PSYCOPHAT
Bila seorang penjahat dalam aksi kriminalnya dilakukan dengan keji, kejam dan tak berperikemanusian maka orang pasti akan memvonis sebagai psikopat. Tetapi sebenarnya tidak semua pembunuh adalah psikopat dan tidak semua psikopat pembunuh. Sebenarnya lebih banyak lagi psikopat yang berkeliaran dan hidup di tengah-tengah masyarakat, bukan sebagai pelaku kriminal.
Selama ini mungkin tidak disadari psikopat ada di sekitar kita. Apakah tetangga, teman kerja atau bahkan pasangan serta anggota keluarga mengalaminya. Penyimpangan perilaku itu adalah sikap egois, tidak pernah mengakui kesalahan bahkan selalu mengulangi kesalahan, tidak memiliki empati, dan tidak punya hati nurani. Bila itu semua ada kecurigaan psikopat layak diberikan.
DEFINISI
Psikopat adalah suatu gejala kelainan yang sejak dulu dianggap berbahaya dan mengganggu masyarakat. Istilah psikopat yang sudah sangat dikenal masyarakat justru tidak ditemukan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV. Artinya, psikopat tidak tercantum dalam daftar penyakit, gangguan atau kelainan jiwa di lingkungan ahli kedokteran jiwa Amerika Serikat. Psikopat dalam kedokteran jiwa masuk dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial. Selain psikopatik, ada gangguan antisosial, asosial, dan amoral yang masuk dalam klasifikasi gangguan kepribadian dissosial.
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan skizofrenia karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopat. Beberapa seorang ahli memprediksi tiga dari 10 laki-laki di Amerika Serikat dan satu dari 30 laki-laki di Inggris adalah psikopat. Prediksi ini didasarkan pada penelitiannya, yang sebagian besar respondennya adalah laki-laki.
Psikopat ditemukan di berbagai profesi dan kelas sosial, laki- laki dan perempuan. Karena yang dirugikan oleh kejahatannya tak hanya individu tetapi juga masyarakat luas, Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, pemabuk, penjudi, penipu, pelaku kekerasan dalam rumah tangga, pelaku bunuh diri dan koruptor. Namun, kasus kriminal itu hanya terjadi pada sekitar 15-20 persen dari semua penderita psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.
PENYEBAB
Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab psikopat. Berbagai teori dikemukakan oleh para peneliti. Teori kelainan struktural otak seperti penurunan intensitas bagian otak di daerah prefrontal grey matter dan penurunan volume otak di bagian "posterior hippocampal" dan peningkatan intensitas otak bagian "callosal white matter". Teori lain adalah gangguan metabolisme serotonin, gangguan fungsi otak dan genetik yang diduga ikut menciptakan karakter monster seorang psikopat.
Mungkin tidak terdapat kerusakan otak sebagai penyebab psikopatik. Tetapi terdapat anomali dalam cara psikopat memproses informasi. Dalam penelitian menggunakan MRI melalui pengenalan gambar-gambar kasus bunuh diri yang tidak menyeramkan. Pada orang non-psikopat terlihat banyak sekali aktivasi di amigdala sedangkan pada psikopat tidak ada perbedaan sama sekali. Namun ada peningkatan aktivitas di area lain pada otak yaitu area ekstra-limbik. Tampaknya psikopat menganalisis materi emosional di area otak tersebut.
Selain ada anomali di otak, faktor genetik dan lingkungan juga berperan besar melahirkan karakter psikopat. Stres atau tekanan hidup yang besar bisa pula merubah perilaku seseorang menjadi brutal. Namun bila sifatnya sementara, karena ada pemicu yang masuk akal, maka tidak bisa dikatakan psikopat. Ciri psikopat sebenarnya bisa dideteksi sejak kanak-kanak melalui berbagai perilaku yang tidak biasa. Perilaku antisosial pada anak-anak ternyata merupakan warisan genetik. Penelitian terhadap anak-anak kembar menunjukkan, anak menunjukkan kecenderungan psikopatik dini. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 3.687 pasang anakkembar berusia tujuh tahun.
GEJALA PSIKOPAT
Terdapat tiga ciri utama yang biasanya melakat pada seorang psikopat, yakni egosentris, tidak punya empati, dan tidak pernah menyesal. Terdapat sepuluh karakter spesifik psikopat. Di antaranya adalah tidak memiliki empati, emosi dangkal, manipulatif, pembohong, egosentris, pintar bicara, toleransi yang rendah pada frustasi, membangun relasi yang singkat dan episodik, gaya hidup parasitik, dan melanggar norma sosial yang persisten. Seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Sejumlah penelitian menunjukkan, psikopat lebih suka menyiksa pasangan daripada membunuhnya. Dari sekian banyak pembunuhan dalam rumah tangga, hanya 2% yang pelakunya benar-benar seorang psikopat. Para psikopat umumnya tidak menyesal setelah melakukan aksinya. Hanya sedikit psikopat yang menyesal lalu memutuskan bunuh diri. Dari 2% psikopatyang melakukan pembunuhan, seperempatnya melakukan bunuh diri.
Selengkapnya gejala psikopat adalah sebagai berikut :
1. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
2. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
3. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
4. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
5. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
6. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
7. Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
8. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
10. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
11. Sikap antisosial di usia dewasa.
DIAGNOSIS
Tidak mudah mendiagnosa psikopat. Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu. Pemeriksaan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian. Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial. Dilakukan pengamatan perilaku dan kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan. Pemeriksaan psikotes untuk menilai tingkat kecerdasan. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.
MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) adalah metode yag selama ini digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan jiwa secara umum, termasuk psikopat. Namun MMPI masih mempunyai kelemahan. Tidak sulit bagi seorang psikopat yang cerdas untuk merekayasa laporan dan berbohong. Akhirnya dikembangkan Psychopathy Checklist (PCL) dan versi revisinya Psychopathy Checklist-Revised (PCL-R), untuk penilaian secara valid dan benar tentang psikopat. PCL-R merupakan metode yang sudah dilengkapi dasar-dasar interview semi-struktural dengan seseorang yang dicurigai sebagai psikopat, bersama-sama diolah dengan berbagai informasi tentang orang tersebut. Penilaian ditentukan dengan skala, mulai dari 0 artinya tidak ada insikasi psikopat hingga 2 yang artinya seseorang positif memiliki karakter psikopat. Total skor adalah 40, dan seseorang didiagnosa psikopat jika dia memiliki skor antara 30 hingga 40. Pada beberapa kasus, skor 25 juga sudah dikategorikan psikopat.
Terdapat sekitar 20 kriteria dalam PCL-R dalam menegakkan diagnosis psikopat. Di antaranya sebagai berikut : persuasif dan memesona di permukaan, menghargai diri yang berlebihan, butuh stimulasi atau gampang bosan, pembohong yang patologis, menipu dan manipulatif, kurang rasa bersalah dan berdosa, emosi dangkal, kasar dan kurang empati, hidup seperti parasit, buruknya pengendalian perilaku, longgarnya perilaku seksual, masalah perilaku dini (sebelum usia 13 tahun), tidak punya tujuan jangka panjang yang realistis, impulsif, tidak bertanggung jawab atas kewajiban, tidak bertanggung jawab atas tindakan sendiri, pernikahan jangka pendek yang berulang, kenakalan remaja, melanggar norma dan keragaman kriminal.
Alat diagnosis lain yang digunakan berdasarkan teori yang sudah eksis (metode deduksi) adalah Primitive Defense Guide, Rorschach, ToM (Theory of Mind), SCT (Sentence Completion Test) dan NEO PIR.
PENANGANAN DAN PENCEGAHAN
Pada dasarnya, psikopat tidak bisa diterapi secara sempurna tetapi hanya bisa terobservasi dan terdeteksi. Untuk tahap pengobatan dan rehabilitasi psikopat saat ini baru dalam tahap kopleksitas pemahaman gejala. Terapi yang paling mungkin adalan non obat seperti konseling. Namun melihat kompleksitas masalahnya, terapi psikopat bisa dikatakan sulit bahkan tidak mungkin. Seorang psikopat tidak merasa ada yang salah dengan dirinya sehingga memintanya datang teratur untuk terapi adalah hal yang mustahil. Yang bisa dilakukan manusia adalah menghindari orang-orang psikopat, memberikan terapi pada korbannya, mencegah timbul korban lebih banyak dan mencegah psikopat jangan berubah menjadi kriminal.
Psikopat salah satu perilaku menyimpang yang banyak ditakuti masyarakat sebenarnya selama ini banyak terdapat disekitar kita. Sekitar 1 dari 100 orang di dalam masyarakat adalah psikopat. Hampir seperlimanya akan berperilaku kriminal seperti pembunuh, pemerkosa, koruptor, pemabuk, atau penjudi. Mungkin salah satunya akan berpotensi menjadi "monster penjagal manusia". Bila deteksi dini gangguan perilaku pada anak dan pendekatan lingkungan dilakukan dengan baik, maka idealnya psikopat tidak akan berubah menjadi kriminal.
Beberapa penelitian faktor lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan tersebut bisa berupa fisik, biologis dan sosial. Tetapi kebanyakan orang-orang beresiko biasanya memasuki lingkungan yang sama yang berpotensi terjadinya kejahatan tersebut. Faktor lingkungan fisik dan sosial yang beresiko berkembangnya seorang psikopat menjadi kriminal adalah tekanan ekonomi yang buruk, perlakuan kasar dan keras sejak usia anak, penelantaran anak, perceraian orang tua, kesibukan orangtua, faktor pemberian nutrisi tertentu, dan kehidupan keluarga yang tidak mematuhi etika hukum, agama dan sosial. Lingkungan yang beresiko lainnya adalah hidup ditengah masyarakat yang dekat dengan perbuatan criminal seperti pembunuhan, penyiksaan, kekerasan dan lain sebagainya.
Sedangkan lingkungan biologis salah satunya yang saat ini banyak diteliti adalah pola makan apakah berpengaruh terhadap tindak kriminal tersebut. Adanya penelitian yang dilakukan Peter C dkk tahun 1997 cukup mengejutkan. Didapatkan kaitan diet, alergi makanan, intoleransi makanan dan perilaku kriminal di usia muda cukup menjadi informasi dan fakta ilmiah yang menarik dan sangat penting, Meskipun demikian masih belum dapat dijelaskan mengapa beberapa faktor tersebut berkaitan.Terdapat beberapa faktor resiko untuk terjadi tindak kekerasan dan kriminal tersebut seperti agresifitas, emosi, impulsifitas, hiperaktif, gangguan tidur dan sebagainya. Ternyata banyak faktor resiko tersebut juga terjadi pada penderita alergi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Gangguan fungsi otak itulah maka timbul gangguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, impulsifitas hingga memperberat gejala penderita Autism dan ADHD.
Bila faktor genetik, gangguan fungsi otak, dan diikuti oleh lingkungan fisik, biologis dan sosial yang negatif maka tindak kriminal pada penderita psikopat lebih gampang terjadi. Sehingga sangatlah penting untuk mengetahui faktor resiko dan gangguan perilaku pada usia anak untuk dilakukan pencegahan sejak dini.
keren!!!! saya suka dilihat dari gejala saya cenderung ke no 3 apakah saya phsychopat juga?
MP/SP Multi personality / split personality / kepribadian ganda
ada 4 jenis dissociative disorder, yaitu:
1. dissociative amnesia
2. dissociative fugue
3. depersonalization disorder
4. dissociative identity disorder (DID) <--- dulu istilah yang dipake adalah multiple personality disorder (MPD), tapi sekarang udah diganti ke DID
karakteristik secara umum untuk semua penyakit ini adalah : 'perubahan' identitas seseorang, memori, ataupun kesadaran. orang yang menderita penyakit2 ini ngga bisa mengingat kejadian2 penting atau mungkin lupa identitas diri sementara, atau malah 'membuat' identitas baru.
untuk jenis pertama, orang yang menderita dissociative amnesia tidak bisa mengingat informasi tentang dirinya sendiri, biasanya terjadi setelah mengalami kejadian yang stressful. walau informasi itu bukannya hilang sama skali, tapi dia tidak bisa mengingatnya pada saat lagi amnesia. note: ini tidak sama dengan masalah 'pelupa' yang biasa dialami orang2. penderita biasa tidak mengenali keluarga maupun temen, tapi masih mempunyai kemampuan berbicara, membaca, maupun kemampuan2 lain dulunya. amnesia ini bisa berlangsung selama beberapa jam sampe beberapa tahun.
kedua, dissociative fugue, penyakit 'lupa' yang lebih parah dari dissociative amnesia. penderita bukan hanya menjadi amnesia, tapi juga tiba2 meninggalkan rumah maupun pekerjaannya, dan kemudian 'membentuk' identitas baru. orang ini bisa aja mengambil nama baru, rumah baru, pekerjaan baru, bahkan kepribadian baru. penyakit ini biasanya terjadi setelah orang itu mengalami tekanan yang hebat, misalnya pertengkaran keluarga, kesulitan dalam pekerjaan, peperangan, atau musibah alam. biasanya penyakit ini bisa sembuh total, dan waktu penyembuhannya bisa sangat bervariasi. dan setelah sembuh, orang ini tidak ingat apa yang terjadi selama dia mengalami fugue
ketiga, depersonalization disorder, di mana penderita 'mengubah' pandangan maupun pengalaman dirinya. jenis penyakit ini agak lain dengan penyakit dissociative yang lainnya, karena depersonalization tidak mengalami gangguan dengan ingatan. biasa penyebabnya adalah stress, dan penderita bisa tiba2 kehilangan kepribadiannya. mereka merasa seperti berada di luar badan, dan seakan2 memperhatikan diri mereka sendiri dari jauh. mereka bergerak seakan2 hilang kesadaran dengan realitas. gejala yang sama juga kadang terjadi di beberapa penyakit lain, seperti schizophrenia, panic attacks, posttraumatic stress disorder, maupun borderline personality disorder. penyakit ini biasanya bermula dari saat remaja, dan berlansung cukup lama. penyakit ini juga cukup sering terjadi bersamaan dengan disorder lainnya.
kadang kala kita memang merasa seperti bukan menjadi diri sendiri, tapi hal ini adalah normal dan bukan brarti menderita multiple personality.
menurut DSM-IV, diagnosis yang benar untuk dissociative identity disorder (DID) adalah jika seseorang itu mempunya 2 ego yang berbeda (alter ego), di mana masing2 ego mempunyai perasaan, kelakuan, kepribadian yang exist secara independent - dan 'keluar' dalam waktu yang berlainan. biasanya ada 1 kepribadian utama, dan penyembuhan penyakit ini biasa dilakukan pada alter utama. pada umumnya, ada 2 - 4 alters pada saat seseorang ter-diagnosa, dan cukup sering ada alter2 lainnya lagi yang muncul pada saat treatment.
gap dalam ingatan juga biasa terjadi karena dari satu alter dengan alter lain tidak berhubungan; dalam arti, alter A tidak mempunyai ingatan alter B itu seperti apa, atau mungkin malah tidak tau tentang keberadaan alter B. keberadaan alter yang berbeda harus kronik (long lasting / berlangsung lama), dan menyebabkan gangguan dalam kehidupannya. (jadi bukan gara2 mengambil obat tertentu, misalnya)
masing2 alter bisa cukup kompleks, dengan tingkah laku, ingatan, relationship yang tersendiri. biasanya kepribadian2 ini berbeda atau malah saling bertolak belakang. mereka bisa aja mempunyai pikiran sendiri, pake kacamata dengan degree yang berbeda, atau alergi terhadap substances yang berbeda. alter utama maupun yang subordinate masing2 sadar akan 'waktu yang hilang' (memory gap), malah kadang suara alter yang satu (A) bisa 'masuk' ke alter yang lain (B), walo alter itu (B) tidak tau/sadar asal suara itu dari siapa.
DID biasanya bermula dari saat kecil, tapi jarang ter-diagnosed sampe saat dewasa. penyakit ini jauh lebih rumit dibandingkan penyakit dissociative yang lain, dan kadang tidak bisa disembuhkan secara total. penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. cukup sering DID disertai penyakit lain, misalnya depression, borderline personality disorder, dan samatization disorder. penderita juga biasanya mengalami sakit kepala, substance abuse, fobia, halusinasi, percobaan bunuh diri, begitu juga dengan gejala dissociative lainnya seperti amnesia dan depersonalization.
kasus2 DID kadang di-misunderstood sebagai schizophrenia. schizo berasal dari bahasa yunani, yang berarti "splitting away from"; sehingga hal ini menyebabkan kebingungan. padahal split personality ini cukup berbeda dengan gejala2 yang ditemukan dalam schizophrenia.
asal usul DID (dissociative identity disorder)
ada 2 teori utama tentang DID. yang satu mengatakan bahwa DID bermula sejak kecil, akibat kekerasan fisik atau sexual yang parah (abuse). kekerasan ini menyebabkan terpisahnya dan terbentuknya alter sebagai pelarian dari trauma. tapi berhubung tidak semua orang yang mengalami kekerasan semasa kecil menderita DID, maka kemudian dikatakan bahwa mungkin ada hal lain yang hadir di antara mereka yang menderita DID. ada satu ide yang mengatakan bahwa tingginya hypnotizability (mudahnya-seseorang-dihipnotis; note, brarti orang itu mempunyai tingkat sugesti yang tinggi) mempermudah pembentukan alters melalui self-hypnosis. ide lain adalah, orang yang menderita DID sangat mudah / cenderung terlibat dalam fantasi.
teori lain menganggap DID sebagai perwujudan social role yang dipelajari (role-enactment). alter yang muncul saat dewasa, biasanya disebabkan oleh suggestion dari therapist. DID tidak dilihat sebagai 'penipuan' kesadaran dalam teori ini; masalahnya bukan di 'apakah DID ini real ato ngga', tapi dari segi sebrapa terbentuk dan pemeliharaannya. (sorry, saya agak kesusahan menerjemahkan bagian ini)
Spano ber-ide bahwa DID itu hanyalah role-play. satu contoh, survey yang dilakukan di switzerland menemukan bahwa 66 persen dari diagnosis DID berasal dari kurang-dari 10 persen psychiatrists yang merespon. mungkin dikarenakan para psikiater2 ini mempunyai kriteria yang longgar / berbeda dalam mendiagnosa DID.
sumber informasi lain... sebuah studi dilakukan setelah sebuah kasus di pengadilan pada tahun 80an tentang pembunuh bersiri di california, yang dikenali sebagai Hillside Strangler. ( si tertuduh, Ken Bianchi, mengatakan bahwa dia tidak bersalah karena pengalami penyakit jiwa, dan dikatakan bahwa yang melakukan pembunuhan itu merupakan alternya, Steve. pembunuh ini gagal membuktikan bahwa dia menderita DID).
dalam study tersebut, (saya tidak jelasin detail2 / cara2 eksperimennya, soalnya banyak kalimat yang susah diterjemahin), terlihat bahwa orang bisa membuat kepribadian baru, jika kondisi menuntut demikian. Spano mengatakan bahwa beberapa orang yang menunjukkan multi-kepribadian ini bisa aja mempunyai tingkat berfantasi yang tinggi dan selalu berkhayal bahwa mereka adalah orang lain, terutama ketika, seperti Bianchi, dalam keadaan di mana suatu hal yang salah terjadi sehingga menyebabkan mereka berkelakuan seakan2 hal itu dilakukan oleh kepribadian lain. tapi ingat, studi ini hanya menggambarkan bahwa role-playing bisa aja terjadi (possible); bukan brarti penyebab multi-kepribadian adalah karena ini. lagipula, DID merupakan penyakit yang kompleks, dimana ada gejala2 lain seperti halusinasi, hilang ingatan, dan depersonalization. dalam studi role-playing, tidak ada satupun gejala2 ini yang hadir.
satu hal yang penting tentang dua teori ini adalah, apakah DID bener2 terbentuk sejak kecil karena kekerasan? ketika penderita DID memulai terapi, mereka biasanya tidak sadar akan keberadaan alter2nya. tapi seiring waktu terapi, alters muncul dan pasien melaporkan bahwa alternya memang bermula dari masa kecil. tapi, tidak ada bukti kuat tentang hal ini, lagipula self-report yang ngga meyakinkan tidak diterima. hal yang sama mengenai kekerasan fisik dan sexual: banyak kasus yang dilaporkan, tapi masih tidak meyakinkan.
akan tetapi ada satu study lagi, yang memberikan data cukup jelas mengenai masa kecil dan kekerasan dalam kasus DID, (walo studi ini dikritik oleh teori role-enactment). dalam studi ini, yang mana dilakukan dalam waktu lebih dari dua dekade, 150 narapidana / pembunuh dipelajari secara mendetail. 14 kasus DID ditemukan. 12 dari 14 kasus menunjukkan bahwa gejala DID sudah ada jauh sebelum mereka dimasukkan ke penjara, 9 mengalami halusinasi pendengaran, 10 mengalami bayangan (yang mana merupakan laporan yang cukup umum di antara penderita DID). masing2 gejala juga diperkuat buktinya dengan at least 3 bukti luar (misalnya, interview dengan anggota keluarga, guru, staff di penjara). Selain itu, beberapa kasus menunjukkan beberapa gaya menulis yang sangat berbeda, jauh sebelum dimasukkan ke penjara. (kapan2 kalo sempat scan, ntar saya attach gambar tulisan2 mereka yang sangat berbeda dari segi gaya, walaupun ditulis oleh satu orang yang sama)
dan hal penting lainnya dalam study ini adalah 11 kasus menunjukkan adanya kekerasan fisik dan sexual ketika masa kecil. hal ini diconfirm oleh sumber2 luar, dan bukti fisik yang nyata seperti tanda luka (scar), misalnya luka bakar dll. data2 ini cukup mendukung teori bahwa DID memang berasal dari masa kecil dan berhubungan dengan extreme stress.
kontroversi dalam mendiagnosa DID
DID pertama dikenali sekitar abad ke19. dalam sebuah review literatur, Sutcliffe dan Jones mengidentifikasi 77 kasus, dan rata2 terlapor dalam periode antara 1890 - 1920. setelah itu, laporan tentang kasus DID menurun sampai tahun 1970, yang kemudian meningkat lagi.
apa yang menyebabkan muncul kembalinya diagnosis DID dalam 25 tahun terakhir? one possible explanation tentang meningkatnya kasus DID adalah DSM-III, yang mana dikeluarkan pada tahun 1980, dan kriteria mendiagnosa DID pertama kalinya dijelaskan. (note: DSM = Diagnostic and Statistical Manual, dikeluarkan oleh American Psychiatric Association... dsm merupakan 'manual' tentang pengkategorian beserta kriteria2 dalam mendiagnosa penyakit2 jiwa)
Tapi mungkin juga karena orang2 mulai terbiasa / mengerti tentang DID, atau mungkin para psikiater biar menemukan kasus yang mirip, tapi langsung melaporkan sebagai DID, apalagi sejak penyakit ini semakin menarik perhatian. atau, menurunnya kasus / diagnosa DID tahun2 sebelumnya disebabkan oleh popularitas tentang konsep schizophrenia; kasus DID bisa aja disalah-diagnosa sebagai kasus schizophrenia. Tetapi, gejala2 dari dua penyakit ini sebenarnya cukup berbeda; walaupun suara2 alters yang didengar mungkin merupakan halusinasi auditori (pendengaran), tetapi pasien DID tidak menunjukkan gejala thought disorder maupun behavioral disorganization seperti dalam schizophrenia. isu diagnostic lainnya adalah, bahwa dalam DSM-III, tidak ada kriteria bahwa alters itu amnestic dengan satu sama lain, sehingga meningkatkan kemungkinan diagnosis yang bisa diapply ke orang2 yang mengalami berbagai masalah behavior lain yang juga hadir dalam penyakit jiwa yang lain.
faktor lain yang mungkin meningkatkan diagnosis DID adalah publikasi tentang Sybil pada tahun 1973, yang mana menunjukkan kasus dramatic tentang 16 kepribadian. kasus ini menarik perhatian yang besar dan menyebabkan banyak sekali orang yang semakin tertarik tentang penyakit ini. beberapa kritik menyimpulkan bahwa perhatian yang berlebihan tentang ini menyebabkan beberapa ahli therapist men-sugesti bahwa clientsnya menderita DID. Cukup jelas bahwa di masa era setelah-sybil, jumlah alters meningkat drastis, dari 2-3, hingga lebih dari 12.
untuk yang suka MPD psycho seneng deh pasti baca ini... printnannya ga pernah ilang di rumah...
Langganan:
Postingan (Atom)


